JAKARTA – Proses peradilan hukum di Indonesia tampaknya tidak pernah kehabisan episode drama yang menguras kesabaran publik. Pada Senin (20/4/2026), agenda persidangan kembali diwarnai oleh taktik pembelaan yang sudah sangat klise di mata masyarakat: jurus “kartu sakit”.
Dalam sidang lanjutan kali ini, tim kuasa hukum secara terang-terangan mengajukan permohonan keringanan. Pihak Nadiem minta hakim kabulkan pengalihan tahanan, ungkap kondisi drop hingga membutuhkan penanganan medis dan lingkungan yang lebih layak di luar sel tahanan negara. Permohonan ini biasanya mengarah pada permintaan status tahanan kota atau tahanan rumah, di mana terdakwa bisa bernapas jauh lebih lega daripada di balik jeruji besi.
Mendengar narasi ini, wajar jika insting skeptis publik, terutama kalangan Gen Z dan Milenial, langsung menyala terang. Fenomena “sakit mendadak” saat berhadapan dengan hukum sudah menjadi running joke (lelucon berulang) yang tidak lucu lagi di negeri ini.
Pertanyaan kritisnya selalu sama: Mengapa ketika mereka berada di puncak jabatan, memegang kendali, atau saat dugaan kasus tersebut bergulir, fisik mereka terlihat sekuat superhero? Namun, begitu rompi tahanan dipakaikan dan pintu sel ditutup, tiba-tiba mereka berubah menjadi sosok paling rapuh yang butuh perawatan intensif?

Kita tentu tidak boleh menyepelekan hak asasi manusia dan kesehatan seseorang, sekalipun ia berstatus terdakwa. Namun, asas keadilan (equality before the law) tetap harus ditegakkan. Berapa banyak rakyat jelata pelaku kejahatan kecil yang tetap dibiarkan mendekam di sel sempit meski sedang sakit keras? Kenapa privilege “pengalihan tahanan” ini seolah hanya berlaku bagi mereka yang punya nama besar dan kuasa hukum mahal?
Publik kini menaruh harapan penuh pada ketegasan Majelis Hakim. Jangan sampai peradilan kita kembali dipermainkan oleh rekam medis yang subjektif. Jika memang diperlukan, hakim harus meminta second opinion dari tim dokter independen yang ditunjuk oleh negara, bukan sekadar mengandalkan surat keterangan dari pihak terdakwa. Hukum tidak boleh kalah oleh drama medis!
Baca juga berita update lainnya disini: https://nakarimedia.com/
Baca juga berita update lainnya disini: https://binarnesia.com/





















