JAKARTA BARAT – Drama penggerebekan sindikat kejahatan siber internasional di jantung kota Jakarta makin panas. Pasca-penangkapan 321 Warga Negara Asing (WNA) yang menyulap sebuah gedung perkantoran menjadi markas judol (judi online), penyidik kepolisian kini mulai menguliti fakta-fakta baru di lapangan.
Dari hasil olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) lanjutan, petugas menemukan rentetan jejak mencurigakan para WNA yang ditinggalkan begitu saja di area kantor tersebut. Bukti-bukti ini membuka tabir betapa tertutup dan terorganisasinya operasi mafia digital ini.
Gaya Hidup Nokturnal dan Super Tertutup
Berdasarkan temuan di lapangan, markas judol di Hayam Wuruk Jakbar ini bukan sekadar tempat kerja, melainkan juga tempat persembunyian komunal. Polisi menemukan puluhan kantong tidur (sleeping bag), bilik-bilik istirahat darurat di bawah meja kerja, hingga tumpukan ekstrem botol minuman energi dan suplemen.
Jejak ini mengonfirmasi bahwa ratusan WNA tersebut menerapkan sistem kerja nokturnal (aktif di malam hari) dan nyaris tidak pernah meninggalkan gedung untuk berinteraksi dengan warga sekitar.
“Mereka hidup seperti kelelawar di dalam gedung ini. Logistik makanan dan kebutuhan sehari-hari dipasok secara rahasia melalui pintu belakang. Ini adalah jejak mencurigakan yang seharusnya sejak awal diendus oleh pihak keamanan gedung,” beber sumber dari tim investigasi di lapangan.
Upaya Penghancuran Bukti Digital
Yang tak kalah mengejutkan, saat polisi melakukan pendobrakan, sempat terjadi kepanikan massal yang berujung pada upaya perusakan barang bukti. Tim Cyber Crime Polda Metro Jaya mendapati sejumlah jejak mencurigakan para WNA yang mencoba memusnahkan data-data krusial.
Beberapa perangkat keras (hard drive) ditemukan dalam kondisi basah terendam air, sementara beberapa flashdisk dan SIM card sengaja dipatahkan atau dibakar di tempat sampah sudut ruangan. Mereka diduga kuat sedang berusaha memutus rantai pelacakan aliran dana dan menghapus database kontak pemain ( member) VIP mereka.
Untungnya, kepolisian bertindak lebih cepat dan berhasil mengamankan server utama yang masih menyala, yang kini menjadi kunci utama untuk membongkar jaringan yang lebih besar.
Memburu “Mastermind” di Balik Layar
Penemuan berbagai perangkat komunikasi dengan enkripsi tingkat tinggi juga menjadi sorotan. Alat-alat ini diduga digunakan oleh para operator WNA untuk berkomunikasi langsung dengan bos besar ( mastermind) yang disinyalir berada di luar negeri.
Saat ini, kepolisian fokus melakukan digital forensic (forensik digital) terhadap seluruh device yang tersisa di TKP. Masyarakat mendesak agar kasus markas judol Hayam Wuruk ini tidak berhenti pada ratusan “kroco” WNA yang tertangkap, tetapi diusut tuntas hingga ke bandar besar dan oknum yang diduga menjadi bekingan sindikat tersebut.
Baca juga berita update lainnya disini: https://nakarimedia.com/
Baca juga berita update lainnya disini: https://binarnesia.com/




















