AMBON – Pepatah “pagar makan tanaman” sepertinya menemukan bentuk paling harfiahnya dalam institusi penegakan hukum kita hari ini. Di tengah status Indonesia yang sedang berjuang keras menghadapi status darurat narkoba, sebuah pengkhianatan besar terhadap sumpah jabatan kembali terungkap ke permukaan.
Pada Senin (27/4/2026), aparat kepolisian membongkar sebuah sindikat peredaran gelap narkotika yang ternyata diotaki oleh “orang dalam”. Terungkap secara gamblang bagaimana modus eks kanit narkoba pasok sabu ke Ambon gunakan jasa ekspedisi. Fakta bahwa tersangka adalah mantan Kepala Unit (Kanit) Narkoba membuat publik dan para pengamat hukum kehabisan kata-kata.
Mengapa memilih jasa ekspedisi? Dari kacamata analisis supply chain dan taktik kriminal, ini adalah langkah yang sangat penuh perhitungan. Sebagai mantan orang dalam, tersangka sangat paham di mana letak “titik buta” ( blind spot) dari sistem pemindai X-Ray di pelabuhan maupun bandara. Menyisipkan paket sabu di antara puluhan ribu ton paket logistik reguler e-commerce jauh lebih “aman” secara statistik dibandingkan membawanya melalui kurir manusia (body strapping) yang rentan terkena profiling petugas bandara.
Namun, pengungkapan ini membawa dampak psikologis yang sangat destruktif bagi public trust (kepercayaan masyarakat). Bagaimana generasi muda bisa percaya pada kampanye “War on Drugs” jika sang panglima perangnya di lapangan justru merangkap menjadi bandar? Pengetahuan taktis yang seharusnya digunakan untuk memutus rantai pasok kartel, malah dimanfaatkan untuk memaksimalkan cash flow bisnis haram pribadi.
Kejahatan yang dilakukan oleh aparat penegak hukum tidak bisa disamakan dengan kejahatan warga sipil biasa. Ini adalah sebuah pengkhianatan ganda ( double treason). Selain merusak saraf dan masa depan ribuan anak bangsa di Ambon, tindakan oknum ini juga meruntuhkan wibawa institusi. Publik kini mendesak adanya pemberatan hukuman hingga sanksi pemiskinan (penyitaan aset), agar kasus ini bisa menjadi deterrence effect (efek jera) yang nyata bagi oknum aparat lainnya yang masih berani “bermain dua kaki”.
Baca juga berita update lainnya disini: https://nakarimedia.com/
Baca juga berita update lainnya disini: https://binarnesia.com/





















