68e3532f23fb2 (1)
Angin Segar Pasar Keuangan! Rupiah dan IHSG Menguat dalam 2 Hari Terakhir, SBY: Ini Good News

JAKARTA – Awan mendung yang sempat menggelayuti pasar keuangan domestik perlahan mulai tersibak. Sinergi kebijakan moneter dan fiskal yang digulirkan pemerintah belakangan ini sukses mengembalikan kepercayaan para investor. Merespons tren positif di mana Rupiah dan IHSG menguat dalam 2 hari terakhir, SBY: ini good news bagi stabilitas perekonomian nasional di tengah ketidakpastian iklim ekonomi global.

Apresiasi mata uang Garuda dan menghijaunya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ini dinilai sebagai momentum krusial untuk mencegah pelarian modal asing (capital outflow) dan menjaga daya beli masyarakat menjelang kuartal krusial perekonomian.

Respons Positif Tokoh Bangsa terhadap Kinerja Otoritas

Presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), melalui keterangan tertulisnya menyambut baik tren pemulihan ini. Sebagai tokoh yang pernah menakhodai ekonomi Indonesia melewati krisis finansial global 2008, SBY memahami betul betapa krusialnya sentimen psikologis pasar terhadap stabilitas fundamental negara.

“Stabilitas nilai tukar adalah fondasi utama rasa aman bagi dunia usaha. Fakta bahwa Rupiah dan IHSG menguat dalam 2 hari terakhir, SBY: ini good news yang harus dijaga keberlanjutannya. Ini membuktikan bahwa langkah intervensi terukur dari Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan telah berada di jalur yang tepat ( on the right track). Namun, pemerintah tidak boleh lekas berpuas diri,” urai SBY memberikan wejangan kepada para pemangku kebijakan.

Tiga Katalis Utama Pendorong Rebound Pasar

Para analis pasar modal dan ekonom makro sepakat bahwa reli positif yang dialami oleh Rupiah dan bursa saham domestik tidak terjadi secara kebetulan. Terdapat tiga katalis utama yang menopang kebangkitan pasar dalam kurun waktu 48 jam terakhir:

  1. Efektivitas Triple Intervention Bank Indonesia: Intervensi masif BI di pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan pasar obligasi SBN berhasil menyeimbangkan pasokan dolar AS dan meredam aksi spekulasi valas.

  2. Sinyal Dovish dari Bank Sentral Global (The Fed): Rilis data inflasi Amerika Serikat yang melandai memberikan harapan bagi pelaku pasar bahwa Federal Reserve akan segera memangkas suku bunga acuannya, sehingga memicu arus modal kembali masuk (capital inflow) ke pasar berkembang ( emerging markets).

  3. Fundamental Ekonomi Domestik yang Solid: Rilis neraca perdagangan Indonesia yang masih mencatatkan surplus serta inflasi inti yang terkendali memberikan sinyal kuat kepada investor asing bahwa daya tahan ( resilience) ekonomi Indonesia masih sangat kokoh.

Menjaga Momentum Pertumbuhan

Meski angin segar sedang berembus di lantai bursa dan pasar valas, para pelaku ekonomi mengingatkan otoritas terkait untuk tetap mewaspadai risiko geopolitik global yang masih dinamis. Pemerintah didesak untuk terus menggenjot implementasi kebijakan retensi Devisa Hasil Ekspor (DHE) guna mempertebal bantalan Cadangan Devisa (Cadev). Dengan fondasi yang semakin kuat, target pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen pada tahun ini diyakini bukan sekadar angan-angan.

Baca juga berita update lainnya disini: https://nakarimedia.com/

Baca juga berita update lainnya disini: https://binarnesia.com/