konferensi-pers-di-gedung-bina-graha-jakarta-pusat-rabu-832025-1773811082652_169
Swasembada Berlanjut! RI Surplus 1,3 Juta Ton Beras, Resmi Ekspor ke Arab Saudi dan Papua Nugini

JAKARTA – Di saat beberapa negara tetangga masih berjuang dengan stabilitas pangan, Indonesia justru menunjukkan taringnya sebagai raksasa agraris. Pada Rabu (18/3/2026), Kementerian Pertanian bersama jajaran terkait mengonfirmasi bahwa stok beras dalam negeri mengalami kelebihan produksi (surplus) hingga 1,3 juta ton. Keberhasilan ini tidak lepas dari masifnya mekanisasi pertanian dan program intensif perluasan lahan yang dilakukan sejak dua tahun terakhir.

Target Pasar: Diaspora dan Ketahanan Regional

Keputusan mengekspor beras ke Arab Saudi dan Papua Nugini bukanlah tanpa alasan strategis. Berikut adalah rincian target pasar yang dibidik:

  • Arab Saudi: Fokus utama adalah melayani kebutuhan jutaan jemaah Haji dan Umrah asal Indonesia, serta diaspora yang tinggal di sana. Beras varietas premium asli RI diharapkan bisa merajai dapur-dapur di Tanah Suci.

  • Papua Nugini: Sebagai negara tetangga terdekat, ekspor ke PNG lebih mengedepankan aspek ketahanan pangan regional dan mempererat kerja sama ekonomi bilateral di wilayah perbatasan.

Data Produksi dan Stok Nasional 2026

Berikut adalah gambaran singkat kondisi beras nasional per pertengahan Maret 2026:

Komponen Pangan  Jumlah (Juta Ton)  Keterangan
Total Produksi Maret  32,5  Melampaui target awal
Kebutuhan Domestik  31,2  Termasuk cadangan darurat
Surplus Neto  1,3  Alokasi Ekspor & Cadangan

Menjaga “Napas” Petani Lokal

Pemerintah menegaskan bahwa pembukaan keran ekspor ini dilakukan dengan tetap menjaga stabilitas harga di tingkat petani. Dengan melempar kelebihan stok ke pasar internasional, diharapkan harga gabah di dalam negeri tidak anjlok akibat banjir pasokan.

“Ekspor ini adalah bukti bahwa kita tidak hanya mampu memberi makan rakyat sendiri, tapi juga berkontribusi pada piring makan dunia. Prioritas tetap pada kebutuhan dalam negeri, namun surplus ini adalah ‘bonus’ dari kerja keras petani kita,” ungkap perwakilan otoritas pangan, Rabu (18/3/2026).

Tantangan Logistik di Tengah Krisis Selat Hormuz

Meskipun berita ini sangat positif, pemerintah tetap mewaspadai kendala pengiriman. Sebagaimana diketahui, tertutupnya Selat Hormuz yang masih berlangsung hingga hari ini sedikit banyak mempengaruhi biaya kargo internasional. Namun, untuk rute ke PNG dan Arab Saudi, pemerintah optimistis jalur distribusi masih bisa diamankan melalui jalur alternatif yang telah dipetakan oleh Kementerian Perhubungan.

Baca juga berita update lainnya disini: https://nakarimedia.com/

Baca juga berita update lainnya disini: https://binarnesia.com/