6a171ec593a15
Bencana Susulan Mengintai! Tumpukan Kayu Sisa Banjir Aceh Utara Terbakar, Belum Padam Ancam 5 Desa

ACEH UTARA – Kepedihan warga akibat bencana banjir bandang yang sebelumnya menerjang wilayah Kabupaten Aceh Utara tampaknya belum usai. Saat proses pemulihan infrastruktur dan ekonomi masih berlangsung, masyarakat kini harus menghadapi ancaman kedaruratan baru berupa bencana asap pekat dan kebakaran lahan. Kepanikan melanda saat tumpukan kayu sisa banjir Aceh Utara terbakar, belum padam ancam 5 desa yang saling berdekatan dengan area titik api.

Kondisi ini memicu kekhawatiran ganda, mengingat warga yang baru saja membersihkan rumah dari lumpur banjir kini harus mengevakuasi diri dari ancaman si jago merah.

Api Membesar dari Residu Bencana Alam

Gunungan material berupa gelondongan kayu, ranting pohon, dan sampah domestik yang terbawa arus banjir bandang beberapa waktu lalu menumpuk dan mengering di sejumlah lahan kosong. Cuaca terik yang melanda kawasan tersebut ditambah hembusan angin kencang memicu munculnya titik api (hotspot) yang menyebar dengan sangat cepat.

“Kami sudah mencoba memadamkan dengan peralatan seadanya sejak titik api pertama kali terlihat, tapi volumenya terlalu besar. Kabar bahwa tumpukan kayu sisa banjir Aceh Utara terbakar, belum padam ancam 5 desa ini benar adanya. Angin kencang membuat bara api terbang ke arah atap rumah-rumah warga,” keluh salah seorang aparat desa setempat yang turut berjibaku memadamkan api.

Tiga Ancaman Nyata bagi Keselamatan Warga

Situasi di lapangan kini menuntut respons cepat dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Dinas Pemadam Kebakaran. Terdapat tiga ancaman nyata yang mendesak untuk segera dimitigasi:

  1. Darurat Udara Bersih dan Ancaman ISPA: Asap tebal hasil pembakaran material kayu, plastik, dan sampah sisa banjir memicu polusi udara ekstrem. Hal ini sangat berisiko memicu lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), terutama bagi kelompok rentan seperti balita dan lansia.

  2. Rambatan Api ke Permukiman Padat: Titik api yang tidak segera diisolasi berisiko tinggi merambat ke lahan pertanian warga, kebun warga, hingga menjilat bangunan tempat tinggal semi-permanen yang terbuat dari material mudah terbakar.

  3. Gangguan Visibilitas Jalur Evakuasi: Kepulan asap putih dan hitam yang pekat sangat menutupi jarak pandang (visibilitas) di jalan desa maupun jalur lintas kecamatan, meningkatkan risiko kecelakaan lalu lintas serta menghambat laju masuknya kendaraan bantuan logistik.

Desakan Pengerahan Alat Berat dan Armada Damkar

Mengingat kedalaman dan volume tumpukan kayu yang sangat masif, pemadaman tidak cukup hanya dengan menyiramkan air ke bagian permukaan luar. Masyarakat mendesak pemerintah kabupaten untuk segera mengerahkan alat berat (ekskavator) guna mengurai gunungan kayu tersebut, sehingga air dari armada Damkar dapat menjangkau bara api yang bersembunyi di dasar tumpukan. Penanganan taktis yang cepat dan terintegrasi sangat dibutuhkan agar bencana lingkungan ini tidak memperpanjang penderitaan warga korban banjir.

Baca juga berita update lainnya disini: https://nakarimedia.com/

Baca juga berita update lainnya disini: https://binarnesia.com/