BANDUNG – Menanggapi rentetan bencana alam yang melanda beberapa titik di Jawa Barat pada awal tahun 2026, tokoh publik Dedi Mulyadi memberikan pernyataan reflektif sekaligus menegaskan komitmennya dalam perbaikan sistem mitigasi. Dedi menekankan bahwa penanganan bencana tidak bisa hanya dilakukan saat kejadian, tetapi harus menyentuh akar permasalahan, yaitu perilaku manusia terhadap alam.
Dalam keterangannya di Bandung pada Rabu (21/1/2026), ia mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk menyadari bahwa kerusakan ekologi yang terjadi saat ini adalah dampak dari akumulasi kesalahan pengelolaan lingkungan di masa lalu.
Refleksi Ekologi: Alam Sedang Memberi Peringatan
Dedi Mulyadi menyoroti perubahan bentang alam di Jawa Barat yang kini banyak beralih fungsi. Ia menilai, banjir dan longsor yang terjadi merupakan respons alami dari lingkungan yang sudah tidak mampu lagi menanggung beban pembangunan yang tidak terkendali.
“Kita tidak bisa hanya menyalahkan cuaca. Kejadian-kejadian ini adalah akibat dari ulah kita juga yang kurang menghormati keseimbangan alam. Penanganan bencana harus dimulai dari perubahan pola pikir,” ujar Dedi di Bandung.

Poin Utama Komitmen Penanganan Bencana
Dalam visi penanganannya, Dedi mengusulkan beberapa langkah strategis untuk wilayah Jawa Barat:
-
Audit Tata Ruang: Melakukan pengecekan ketat terhadap izin-izin pembangunan di wilayah resapan air dan perbukitan.
-
Reboisasi Masif: Mengembalikan fungsi hutan lindung dan menanam kembali wilayah-wilayah kritis di hulu sungai.
-
Budaya Ramah Lingkungan: Mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya menjaga drainase dan tidak membuang sampah ke aliran sungai.
-
Sistem Peringatan Dini: Memperkuat infrastruktur teknologi untuk mendeteksi potensi bencana lebih awal guna meminimalisir korban jiwa.
Sinergi Pemerintah dan Kesadaran Rakyat
Dedi juga menegaskan bahwa pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Komitmen penanganan bencana di Jawa Barat memerlukan sinergi yang kuat antara kebijakan yang tegas dari pemimpin dan kesadaran kolektif dari masyarakat. Ia berharap, momentum bencana di tahun 2026 ini menjadi titik balik bagi semua pihak untuk lebih mencintai alam.
“Komitmen saya jelas, kita harus berani mengambil kebijakan yang mungkin tidak populer tetapi menyelamatkan lingkungan jangka panjang. Jika alam kita jaga, alam akan menjaga kita,” pungkasnya.
Pernyataan ini disambut sebagai harapan baru bagi perbaikan tata kelola lingkungan di Jawa Barat yang lebih tangguh terhadap tantangan perubahan iklim global di masa depan.
Baca juga berita update lainnya disini: https://nakarimedia.com/
Baca juga berita update lainnya disini: https://binarnesia.com/















