JAKARTA – Di atas kertas, struktur fundamental makroekonomi Indonesia masih menunjukkan ketahanan yang luar biasa di tengah guncangan global. Hal ini kembali ditegaskan oleh tokoh ekonomi, Purbaya Yudhi Sadewa, yang menjabarkan bahwa mesin utama pertumbuhan ekonomi domestik masih berputar kencang. Namun, di balik angka statistik yang memukau tersebut, ada realita pahit yang menggelitik para pengamat.
Saat Purbaya ungkap penopang ekonomi RI 56,1 persen berasal dari konsumsi rumah tangga, para ekonom soroti kondisi riil di lapangan yang justru menunjukkan sinyal-sinyal kelelahan pada daya beli masyarakat kelas menengah ke bawah.
Konsumsi Rumah Tangga sebagai Bantalan (Shock Absorber)
Dalam paparannya, Purbaya menyoroti struktur Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia yang sangat diuntungkan oleh besarnya populasi dan pasar domestik. Kontribusi konsumsi rumah tangga yang menembus angka 56,1 persen membuat Indonesia relatif lebih kebal terhadap ancaman resesi global maupun fluktuasi harga komoditas ekspor.
“Fondasi kita sangat jelas. Selama mesin konsumsi domestik yang menyumbang 56,1 persen ini terus dijaga, ekonomi kita tidak akan mudah terseret arus pelemahan global. Bantalan domestik kita adalah penyelamat utama,” papar Purbaya merujuk pada ketahanan struktur ekonomi nasional.
Angka makro tersebut memang patut disyukuri, mengingat banyak negara maju saat ini tengah berjuang keluar dari jurang inflasi dan resesi teknikal.
Peringatan Ekonom: Jangan Terbuai Angka Agregat
Meski secara persentase konsumsi rumah tangga terlihat raksasa, kalangan ekonom dan peneliti independen memperingatkan pemerintah agar tidak terjebak dalam ilusi angka agregat. Angka 56,1 persen tersebut tidak serta-merta mencerminkan kesejahteraan yang merata.
Banyak ekonom yang langsung bereaksi dan soroti kondisi riil yang dialami oleh masyarakat kelas pekerja saat ini. Beberapa indikator kontraksi di tingkat mikro yang patut diwaspadai antara lain:
-
Merosotnya Tabungan ( Mantab/Makan Tabungan): Lonjakan harga kebutuhan pokok (seperti beras hingga bahan baku tahu-tempe) memaksa kelompok menengah bawah untuk menggerus tabungan mereka demi mempertahankan tingkat konsumsi.
-
Maraknya Fenomena PHK: Gelombang pemutusan hubungan kerja di sektor padat karya (seperti tekstil dan alas kaki) masih terjadi, yang berpotensi mematikan daya beli ratusan ribu keluarga secara permanen.
-
Kenaikan Upah yang Stagnan: Penyesuaian upah minimum di berbagai daerah kerap kali lebih rendah dari angka inflasi bahan pangan ( food inflation), membuat daya beli riil pekerja sebenarnya menyusut.
Menyelamatkan Daya Beli agar Mesin Tetap Berputar
Jika tekanan terhadap “dapur warga” ini tidak segera dimitigasi, para ekonom khawatir kontribusi konsumsi yang dibanggakan tersebut perlahan akan melambat dan memukul mundur target pertumbuhan ekonomi nasional.
Pemerintah kini didorong untuk tidak sekadar memantau indikator makro, tetapi segera turun tangan dengan kebijakan counter-cyclical, seperti penebalan jaring pengaman sosial (Bansos), subsidi energi yang tepat sasaran, serta operasi pasar untuk menekan harga kebutuhan pokok. Sebab, angka 56,1 persen itu tidak akan ada artinya jika rakyat di level akar rumput sudah kehabisan napas untuk berbelanja.
Baca juga berita update lainnya disini: https://nakarimedia.com/
Baca juga berita update lainnya disini: https://binarnesia.com/




















