6a0ffc20d9484
Waspada Kemarau! El Nino 2026 Mengancam Jawa hingga Kalimantan, Tetapi Bukan Terparah dalam Sedekade

JAKARTA – Bayang-bayang musim kemarau panjang kembali menghantui sebagian besar wilayah Nusantara. Berdasarkan pantauan anomali suhu permukaan laut terbaru dari berbagai badan meteorologi dunia dan BMKG, fenomena iklim El Nino 2026 mengancam Jawa hingga Kalimantan, tetapi bukan terparah dalam catatan sejarah cuaca satu dekade terakhir.

Meski diprediksi tidak seagresif badai El Nino yang memicu krisis multi-sektoral beberapa tahun silam, ancaman kekeringan di area-area vital ini tetap menuntut kesiapsiagaan penuh dari pemerintah pusat maupun masyarakat daerah.

Dampak Nyata di Lumbung Pangan dan Kehutanan

Pergerakan massa udara kering dari Samudra Pasifik diproyeksikan akan berdampak signifikan pada penurunan curah hujan, terutama di wilayah selatan garis khatulistiwa. Pulau Jawa yang menjadi lumbung pangan nasional (food basket) rawan mengalami penyusutan debit air waduk yang krusial untuk irigasi persawahan.

Sementara itu, Pulau Kalimantan menghadapi ancaman klasik namun mematikan: kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

“Risiko kekeringan ini nyata. Fakta bahwa El Nino 2026 mengancam Jawa hingga Kalimantan, tetapi bukan terparah dalam sejarah, tidak boleh dijadikan alasan untuk lengah. Titik panas (hotspot) di area gambut Kalimantan bisa berlipat ganda jika tidak ada patroli air sejak dini,” papar salah satu ahli klimatologi dari pusat riset lingkungan nasional.

Tiga Alasan Mengapa Tahun Ini Bukan yang Terburuk

Publik tidak perlu panik secara berlebihan. Berdasarkan analisis pemodelan iklim (climate modeling), ada tiga faktor ilmiah yang membuat El Nino tahun 2026 ini masuk dalam kategori moderat, bukan ekstrem:

  1. Siklus IOD yang Menetralisasi: Indikator Indian Ocean Dipole (IOD) saat ini berada pada fase netral, tidak berbarengan dengan fase positif yang biasanya memperparah efek El Nino di Indonesia.

  2. Suhu Pasifik yang Fluktuatif: Pemanasan muka laut di Samudra Pasifik bagian tengah terpantau tidak konsisten dan diprediksi durasi puncaknya lebih pendek (hanya berkisar 3-4 bulan) dibandingkan siklus El Nino ekstrem sebelumnya yang bisa bertahan hingga nyaris setahun penuh.

  3. Kesiapan Infrastruktur Air: Dalam lima tahun terakhir, pemerintah telah merampungkan belasan bendungan dan infrastruktur pengerukan embung baru di sepanjang Pulau Jawa, yang memberikan daya tahan (resiliensi) ekstra bagi sektor agrikultur saat suplai air hujan merosot tajam.

Mitigasi Dini yang Harus Segera Dieksekusi

Waktu yang tersisa sebelum puncak kemarau tiba harus dimanfaatkan secara optimal. Pemerintah daerah diinstruksikan untuk segera memetakan desa-desa rawan krisis air bersih dan menyiapkan skema modifikasi cuaca (TMC) atau hujan buatan di wilayah Kalimantan untuk membasahi lahan gambut.

Masyarakat pun diimbau untuk mulai membudayakan penghematan air tanah, menghindari pembukaan lahan dengan cara dibakar, serta memantau rilis resmi prakiraan cuaca dari BMKG agar tidak termakan kabar bohong (hoaks) terkait cuaca ekstrem di media sosial.

Baca juga berita update lainnya disini: https://nakarimedia.com/

Baca juga berita update lainnya disini: https://binarnesia.com/