sltmobitel-srilanka-sim-cards-66568acf89372
Tren Remaja Curhat ke AI Meningkat, Pakar Ingatkan Risiko bagi Kesehatan Mental dan Interaksi Sosial

Bekasi – Fenomena remaja yang semakin sering menjadikan kecerdasan buatan (AI) sebagai tempat mencurahkan perasaan atau mencari solusi atas masalah pribadi terus berkembang seiring pesatnya penggunaan chatbot berbasis AI. Kemudahan akses, respons yang cepat, serta kemampuan AI memberikan jawaban yang terasa personal membuat banyak remaja merasa nyaman berbicara dengan teknologi tersebut. Namun, para pakar mengingatkan bahwa kebiasaan ini juga menyimpan sejumlah risiko yang tidak boleh diabaikan.

Menurut para ahli, AI memang dapat menjadi alat pendukung untuk membantu pengguna mengelola pikiran atau mencari informasi. Akan tetapi, chatbot tidak memiliki empati maupun kemampuan memahami emosi manusia secara utuh seperti keluarga, teman, atau tenaga profesional. Ketergantungan berlebihan pada AI dikhawatirkan dapat mengurangi kualitas interaksi sosial, membuat seseorang enggan berbagi cerita dengan orang terdekat, hingga memengaruhi kesehatan mental dalam jangka panjang.

Selain itu, aspek keamanan data pribadi juga menjadi perhatian. Informasi yang dibagikan kepada chatbot berpotensi tersimpan pada sistem penyedia layanan sehingga pengguna perlu lebih berhati-hati dalam membagikan data sensitif atau pengalaman pribadi. Pakar menyarankan agar AI dimanfaatkan sebagai alat pendukung, bukan pengganti hubungan antarmanusia maupun konsultasi dengan psikolog ketika menghadapi persoalan serius. Pendekatan yang seimbang dinilai mampu memberikan manfaat teknologi tanpa mengorbankan kesehatan mental serta kehidupan sosial remaja.

Baca juga berita update lainnya disini: https://nakarimedia.com/

Baca juga berita update lainnya disini: https://binarnesia.com/