JAKARTA – Selama bertahun-tahun, narasi Hari Buruh seolah hanya menjadi milik mereka yang bekerja di balik tembok pabrik atau memiliki kontrak kerja formal. Namun, lanskap ekonomi digital yang berkembang pesat telah melahirkan kelas pekerja baru yang jumlahnya jutaan, namun nasibnya jauh lebih rentan: para pekerja gig economy (pekerja lepas), khususnya driver ojek online (ojol) dan kurir logistik.
Pada peringatan May Day, Sabtu (2/5/2026), jalanan sekitar Monumen Nasional (Monas) menjadi saksi bisu bersatunya dua kutub pekerja ini. Momen dan kisah-kisah di balik aksi buruh Monas, buruh hingga ojol menyuarakan tuntutan yang sama, menjadi tamparan keras bagi regulasi ketenagakerjaan kita yang sudah usang dan tertinggal zaman.
Dari kacamata ekonomi politik, keikutsertaan ojol dalam barisan unjuk rasa adalah ledakan dari bom waktu berlabel “Mitra”. Status kemitraan yang selama ini digaungkan oleh perusahaan aplikator (startup raksasa) sering kali hanya menjadi ilusi fleksibilitas. Realitanya, status “Mitra” justru melucuti hak-hak dasar pekerja. Mereka tidak mendapatkan jaminan upah minimum, absen dari perlindungan asuransi kesehatan yang memadai, dan tidak punya pesangon jika akun mereka di-suspend (diputus) sepihak oleh sistem algoritma.

Ketika buruh pabrik berteriak soal UMR dan penolakan outsourcing, kawan-kawan ojol berteriak soal potongan komisi aplikasi yang makin mencekik di tengah harga bensin dan kebutuhan pokok yang meroket. Keduanya sama-sama korban dari sistem kapitalisme yang memaksimalkan margin profit korporasi dengan cara menekan biaya kesejahteraan pekerja di level paling bawah.
Bagi generasi muda yang mungkin sering menggunakan jasa mereka untuk memesan makanan atau berangkat ke kampus, aksi ini adalah panggilan empati. Roda ekonomi digital dan kenyamanan hidup kaum urban saat ini disubsidi oleh keringat para pekerja gig yang tidak terlindungi regulasi negara. Sudah saatnya pemerintah merumuskan payung hukum baru yang secara spesifik melindungi pekerja platform digital. Solidaritas tanpa batas, karena luka satu pekerja adalah luka bagi seluruh kelas pekerja!
Baca juga berita update lainnya disini: https://nakarimedia.com/
Baca juga berita update lainnya disini: https://binarnesia.com/























