6a0547d46b650
Menakar Ambisi Global AS: Setelah Selat Hormuz, Trump Incar Kemenangan Ekonomi di Jantung China

WASHINGTON D.C. – Belum usai ketegangan militer yang memuncak di kawasan Teluk Persia, Presiden Amerika Serikat Donald Trump tampaknya tidak ingin membuang waktu untuk membuka front pertempuran baru. Jika di Timur Tengah pendekatan yang digunakan adalah pamer kekuatan militer ( show of force), di kawasan Asia Timur, taktiknya sangat berbeda. Setelah Selat Hormuz, Trump incar kemenangan ekonomi di jantung China.

Manuver agresif ini kembali menegaskan doktrin “America First” yang diusung oleh pemerintahannya, di mana Washington bertekad menekan para rival utamanya secara simultan di berbagai penjuru dunia.

Ambisi Membongkar Rantai Pasok Tiongkok

Fokus pemerintahan Trump kini mulai bergeser ke arah supremasi ekonomi dan teknologi. Washington menyadari bahwa ancaman jangka panjang bagi dominasi Amerika Serikat bukanlah milisi bersenjata di Timur Tengah, melainkan kekuatan industri manufaktur dan teknologi tinggi dari Beijing.

Rencana “kemenangan ekonomi” yang digaungkan oleh Trump ini disinyalir mencakup serangkaian kebijakan agresif yang ditujukan langsung ke jantung perekonomian Tiongkok, antara lain:

  1. Tarif Impor Super Ketat: Rencana pemberlakuan tarif bea masuk yang jauh lebih tinggi dan menyeluruh untuk produk-produk buatan China, terutama di sektor otomotif (kendaraan listrik) dan panel surya.

  2. Blokade Teknologi Generasi Baru: Memperketat embargo ekspor cip semikonduktor canggih dan mesin litografi agar Beijing tidak dapat mengembangkan Artificial Intelligence (AI) dan teknologi militer secara mandiri.

  3. Memaksa Dekopling (Decoupling): Memberikan tekanan hukum dan insentif pajak bagi perusahaan multinasional AS agar segera memindahkan fasilitas produksi mereka keluar dari daratan China.

“Presiden tidak hanya ingin bersaing, beliau ingin menang secara telak. Setelah Selat Hormuz berhasil diamankan dari intervensi, Trump incar kemenangan ekonomi di jantung China untuk memastikan abad ke-21 tetap menjadi milik Amerika,” ungkap salah satu pengamat kebijakan luar negeri di Washington.

Kecemasan Pasar dan Ancaman Balasan Beijing

Langkah AS yang membuka dua garis ketegangan secara bersamaan—militer di Iran dan ekonomi di China—sontak membuat pasar keuangan global kembali bergejolak. Investor khawatir bahwa rentetan kebijakan proteksionis ini akan memicu perang dagang babak baru yang jauh lebih destruktif dibandingkan periode sebelumnya.

Di sisi lain, Beijing dipastikan tidak akan tinggal diam. Tiongkok telah mempersiapkan “senjata balasan”, mulai dari pembatasan ekspor mineral tanah jarang (rare earth) yang sangat krusial bagi industri pertahanan AS, hingga memboikot produk-produk pertanian asal negeri Paman Sam.

Posisi Negara Ketiga di Tengah Pusaran Konflik

Eskalasi perseteruan dua raksasa ekonomi ini menempatkan negara-negara berkembang dan mitra dagang netral, termasuk negara di kawasan ASEAN, dalam posisi yang sulit. Perang tarif dan gangguan rantai pasok global berpotensi mengerek angka inflasi dan memperlambat pertumbuhan ekonomi dunia.

Dunia kini menanti, apakah ambisi besar Donald Trump untuk menaklukkan Beijing secara ekonomi ini akan berhasil mengembalikan kejayaan industri Amerika, atau justru memicu resesi global yang merugikan semua pihak.

Baca juga berita update lainnya disini: https://nakarimedia.com/

Baca juga berita update lainnya disini: https://binarnesia.com/