68e0cec9ad8a9
Permintaan Lesu, BI Catat Penjualan Properti Kuartal I-2026 Anjlok 25,67 Persen

JAKARTA – Sektor properti tanah air tampaknya sedang menghadapi tantangan berat di awal tahun ini. Laporan terbaru dari Bank Indonesia (BI) menunjukkan tren yang kurang menggembirakan, di mana angka penjualan properti residensial pada Kuartal I tahun 2026 mengalami penurunan yang sangat tajam, yakni anjlok hingga 25,67 persen.

Koreksi dalam yang menyentuh angka dua digit ini menjadi sinyal merah bagi para pengembang (developer) dan pemangku kebijakan, menandakan adanya pelemahan daya beli dan pergeseran minat konsumen di pasar perumahan nasional.

Pengereman Daya Beli dan Efek Suku Bunga

Penurunan drastis sebesar 25,67 persen ini mencerminkan sikap kehati-hatian dari masyarakat kelas menengah yang menjadi motor utama pembeli properti. Berdasarkan analisis, lesunya angka penjualan pada tiga bulan pertama tahun 2026 ini dipicu oleh beberapa faktor makroekonomi yang saling berkaitan.

Salah satu faktor utamanya adalah sikap wait and see dari konsumen terhadap kondisi ekonomi awal tahun, ditambah dengan masih tingginya suku bunga acuan perbankan. Kondisi ini membuat suku bunga Kredit Pemilikan Rumah (KPR) masih terasa berat bagi sebagian besar calon pembeli pertama (first-time homebuyers).

“Masyarakat cenderung menunda pembelian aset bernilai besar seperti rumah atau apartemen ketika biaya pinjaman masih tinggi dan ada ketidakpastian pengeluaran lain di awal tahun,” sebut analis properti menyikapi data BI tersebut.

Segmen Menengah ke Bawah Paling Terdampak

Lebih lanjut, pelemahan penjualan properti ini diprediksi sangat memukul segmen perumahan kelas menengah ke bawah. Di saat inflasi kebutuhan pokok membayangi, prioritas belanja masyarakat secara otomatis bergeser dari pembelian aset properti ke pemenuhan kebutuhan dasar sehari-hari.

Sementara itu, untuk segmen kelas atas, para investor cenderung menahan likuiditas mereka atau mengalihkannya ke instrumen investasi lain yang dianggap lebih likuid dan aman dalam jangka pendek dibandingkan properti fisik.

Menanti Stimulus Baru dari Pemerintah

Menghadapi kenyataan properti Kuartal I 2026 anjlok, para pelaku industri kini sangat berharap pada adanya intervensi dari pemerintah dan Bank Indonesia. Insentif berupa pelonggaran Loan to Value (LTV), diskon Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang lebih masif, hingga potensi pemangkasan suku bunga acuan sangat dinantikan untuk kembali memompa gairah pasar.

Tanpa adanya stimulus yang kuat, target pertumbuhan sektor properti di sisa tahun 2026 dikhawatirkan akan sulit tercapai. Pengembang kini harus putar otak menawarkan skema pembayaran yang lebih fleksibel dan promo menarik guna menarik minat konsumen yang saat ini sedang menahan uangnya.

Baca juga berita update lainnya disini: https://nakarimedia.com/

Baca juga berita update lainnya disini: https://binarnesia.com/