SULAWESI SELATAN – Upaya evakuasi terhadap korban kecelakaan pesawat ATR yang jatuh di kawasan lereng pegunungan terus dilakukan dengan penuh perjuangan. Sebanyak 30 personel Tim SAR gabungan dikerahkan ke lokasi titik jatuh yang memiliki medan sangat ekstrem dan sulit dijangkau oleh kendaraan bermotor.
Operasi kemanusiaan ini menjadi sorotan karena melibatkan kolaborasi krusial antara tenaga profesional dan kearifan lokal untuk menaklukkan tantangan alam yang berat.
Kepanduan Warga Lokal Menembus Medan Sulit
Salah satu faktor kunci dalam operasi evakuasi ini adalah keterlibatan warga lokal yang bertindak sebagai pemandu jalan. Mengingat lokasi jatuhnya pesawat berada di lereng gunung yang rimbun dan curam, pengetahuan warga lokal mengenai jalur-jalur setapak menjadi sangat vital bagi kecepatan pergerakan Tim SAR.
Pemandu lokal memimpin di barisan depan untuk membuka jalan dan menunjukkan rute paling aman bagi 30 personel SAR yang membawa perlengkapan evakuasi berat. Tanpa bantuan navigasi manual dari penduduk setempat, waktu tempuh menuju lokasi diprediksi akan memakan waktu jauh lebih lama.

Tantangan Evakuasi di Lereng Terjal
Kondisi geografis yang berupa lereng curam dengan kemiringan ekstrem menjadi kendala utama bagi tim di lapangan. Berikut adalah beberapa tantangan yang dihadapi:
-
Cuaca yang Tidak Menentu: Kabut tebal dan hujan seringkali turun tiba-tiba, mengurangi jarak pandang dan membuat jalur menjadi licin.
-
Keterbatasan Akses: Evakuasi hanya bisa dilakukan dengan berjalan kaki (jalur darat) atau menggunakan helikopter jika cuaca memungkinkan.
-
Struktur Pesawat: Tim harus berhati-hati dalam melakukan pemotongan badan pesawat ATR untuk mengeluarkan korban agar tidak terjadi longsoran di area lereng.
Koordinasi Intensif dan Penanganan Korban
Hingga saat ini, 30 petugas SAR terus bekerja secara bergantian di lokasi. Fokus utama adalah mengidentifikasi dan mengevakuasi seluruh korban ke titik kumpul terdekat sebelum akhirnya dibawa ke rumah sakit terdekat untuk proses identifikasi lebih lanjut oleh tim DVI (Disaster Victim Identification).
Pemerintah daerah dan otoritas penerbangan terus memantau perkembangan di lapangan sembari menyiapkan posko darurat bagi pihak keluarga korban. Kerja keras para relawan dan petugas di tengah medan yang bertaruh nyawa ini mendapatkan apresiasi dan simpati yang mendalam dari masyarakat luas.
Baca juga berita update lainnya disini: https://nakarimedia.com/
Baca juga berita update lainnya disini: https://binarnesia.com/




















