MAGELANG – Candi Borobudur bukan sekadar tumpukan batu kuno yang indah. Monumen raksasa ini adalah mahakarya peradaban masa lalu sekaligus urat nadi perputaran ekonomi pariwisata di Jawa Tengah. Namun, keseimbangan antara menjaga warisan leluhur dan menggenjot devisa negara kini sedang diuji secara ekstrem. Kabar bahwa Fadli Zon tantang debat pihak yang tolak pemasangan chattra di candi langsung menjadi pusaran badai politik yang membelah opini publik pada Senin (4/5/2026).
Oleh karena itu, mari kita bedah konflik ini menggunakan pisau analisis etika konservasi dan makroekonomi pariwisata. Mengapa masalah pemasangan payung batu (Chattra) ini bisa memicu keributan level nasional?
Benturan Etika Arkeologi vs Ambisi Politik
Secara historis dan arsitektural, Chattra adalah elemen spiritual berbentuk payung yang biasanya berada di puncak stupa Buddha. Masalahnya, sisa batu Chattra asli dari Borobudur sangat tidak lengkap. Para arkeolog dan pakar cagar budaya menolak keras pemasangan ini karena melanggar standar restorasi internasional (Venice Charter). Jika dipaksakan menggunakan semen atau batu baru demi membentuk payung yang utuh, keaslian candi akan rusak.
Sebagai dampaknya, status Borobudur sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO terancam dicabut. Namun, di sisi lain panggung, sikap proaktif di mana Fadli Zon tantang debat pihak yang tolak pemasangan chattra di candi menunjukkan adanya tekanan politik yang sangat kuat. Manuver ini bukan sekadar urusan estetika batu, melainkan berkaitan erat dengan branding wisata spiritual berskala global.
Dampak Makroekonomi dari Wisata Religi
Lebih lanjut lagi, kita harus melihat motif ekonomi di balik ambisi ini. Pemerintah saat ini sedang jor-joran menjadikan Borobudur sebagai Destinasi Pariwisata Super Prioritas (DPSP). Tujuannya sangat ambisius: menjadikan monumen ini sebagai “Mekkah”-nya umat Buddha dunia. Jika Chattra terpasang, nilai spiritual candi ini dianggap akan sempurna bagi ritual peribadatan internasional.
Dari kacamata makroekonomi, potensi devisanya memang sangat fantastis. Jika jutaan peziarah internasional dari Thailand, Tiongkok, hingga Jepang rutin datang setiap tahun, Multiplier Effect (efek pengganda) ekonomi lokal akan meledak. Hotel akan penuh, UMKM suvenir laku keras, dan maskapai penerbangan meraup untung besar. Akibatnya, perputaran uang triliunan rupiah bisa mendongkrak Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jawa Tengah secara signifikan.
Bahaya Komersialisasi Warisan Budaya
Meskipun potensi ekonomi wisata religi ini sangat menggiurkan, kelas pekerja dan Gen Z harus tetap kritis. Menabrak aturan baku arkeologi demi mengejar target devisa adalah tindakan yang sangat berisiko. Jika kita mengorbankan integritas sejarah hanya demi mempercantik candi untuk brosur pariwisata, kita sedang mewariskan kebohongan kepada generasi mendatang.
Selain itu, jika status UNESCO benar-benar dicabut akibat pemaksaan pemasangan Chattra palsu ini, kerugian jangka panjangnya justru akan lebih menghancurkan sektor pariwisata kita di mata internasional. Wisatawan asing sangat menghargai keaslian (authenticity), bukan sekadar replika instan.
Sebagai kesimpulan, ketegangan dari fakta bahwa Fadli Zon tantang debat pihak yang tolak pemasangan chattra di candi ini adalah cerminan dari ego sektoral. Negara harus mencari jalan tengah yang elegan. Konsultasi intensif dengan UNESCO dan sidang akademik para ahli arkeologi harus menjadi penentu akhir, bukan sekadar adu argumen politik di depan kamera. Mari kita kawal kelestarian Borobudur, agar sejarah tak dijual murah demi cuan sesaat!
Baca juga berita update lainnya disini: https://nakarimedia.com/
Baca juga berita update lainnya disini: https://binarnesia.com/























