Teheran, Iran — Sebuah gelombang kerusuhan yang meletus di Iran sekarang telah menelan korban lebih dari 500 jiwa, menurut laporan kelompok hak asasi manusia internasional, sementara pemerintah Iran menetapkan tiga hari berkabung nasional guna menghormati mereka yang disebut sebagai martir. Kerusuhan yang bermula dari protes sosial telah berubah menjadi tantangan serius terhadap stabilitas politik negara itu.
Pemerintah Iran mengumumkan masa berkabung nasional selama tiga hari pada Minggu setelah dua pekan bentrokan antara aparat keamanan dan pengunjuk rasa. Pengumuman itu disiarkan melalui televisi negara, menyatakan bahwa berkabung ini untuk anggota pasukan keamanan yang tewas dalam “perlawanan nasional” terhadap apa yang mereka sebut sebagai tindakan teroris dan campur tangan asing.
Jumlah Korban & Aksi Demonstrasi
Menurut data yang dihimpun oleh organisasi HAM berbasis di Amerika Serikat, HRANA, bentrokan itu telah menewaskan lebih dari 500 orang, yang terdiri dari 490 demonstran dan 48 petugas keamanan, meskipun angka resmi ditahan oleh pemerintah Iran belum dirilis secara lengkap. Lebih dari 10.600 orang telah ditangkap di seluruh negeri sejak awal protes pada akhir Desember 2025.
Protes awalnya dipicu oleh kondisi ekonomi yang memburuk, termasuk merosotnya nilai mata uang rial dan melonjaknya harga kebutuhan pokok, serta reformasi subsidi yang tidak populer. Dalam beberapa hari, tuntutan demonstran berkembang menjadi kritik yang lebih luas terhadap pemerintahan Ulama dan sistem teokratis yang telah berkuasa sejak Revolusi 1979.
Tanggapan Pemerintah & Retorika Politik
Pemerintah Iran, yang dipimpin oleh Presiden Masoud Pezeshkian, menolak menanggapi protes sebagai aspirasi rakyat yang sah. Sebaliknya, dalam siaran televisi nasional ia menegaskan bahwa apa yang terjadi adalah serangan “teroris” yang didukung oleh kekuatan asing — khususnya Amerika Serikat dan Israel — tuduhan yang dibantah oleh kedua negara. Dia juga menyerukan dukungan publik melalui seruan massa “perlawanan nasional.”
Teheran juga memperluas retorikanya ke ranah militer, memperingatkan bahwa jika Amerika ikut campur atau menyerang atas nama demonstran, Iran akan menargetkan kepentingan militer AS serta sekutunya. Hal ini semakin menambah ketegangan geopolitik di kawasan yang sudah sensitif.
Dampak Internasional & Kondisi Informasi
Bentrokan hebat ini telah menarik perhatian global. Sekretaris Jenderal PBB serta beberapa negara Barat menyerukan pengekangan kekerasan, menghormati hak asasi manusia, dan mengizinkan kebebasan berekspresi. Di sisi lain, pemerintah Iran memberlakukan pemutusan internet secara nasional, membatasi aliran informasi ke luar negeri dan memperumit verifikasi data independen.
Demonstrasi yang awalnya berfokus pada isu ekonomi kini diperhatikan sebagai salah satu momen paling krusial dalam beberapa tahun terakhir — pertama sejak protes besar tahun sebelumnya dan menimbulkan kekhawatiran akan perubahan politik signifikan di masa depan.
Reaksi Publik & Harapan Perubahan
Sementara pemerintah mencirikan para demonstran sebagai “teroris” atau “perusuh,” banyak pemimpin oposisi dan kelompok masyarakat sipil menggambarkan protes sebagai ekspresi ketidakpuasan mendalam terhadap situasi sosial-ekonomi dan tuntutan reformasi politik. Seruan internasional untuk menghormati hak asasi terus menguat, bahkan di tengah pembatasan informasi yang ketat.
Sebagai negara yang memainkan peran penting di Timur Tengah, perkembangan di Iran ini tidak hanya berdampak domestik, tetapi juga memiliki implikasi luas terhadap keamanan regional dan hubungan diplomatik dengan sejumlah negara besar di dunia.
Baca juga berita update lainnya disini: https://nakarimedia.com/
Baca juga berita update lainnya disini: https://binarnesia.com/



















