JAKARTA – Pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat ternyata bukan sekadar urusan angka-angka rumit di lantai bursa atau layar monitor Bank Indonesia. Kini, dampak dari gejolak kurs tersebut sudah benar-benar terasa di level paling bawah. Efek domino dari Rupiah melemah mulai hantam dapur warga, memicu lonjakan harga pada lauk pauk “sejuta umat” sehari-hari.
Kebutuhan pangan esensial yang sebelumnya menjadi andalan masyarakat kelas menengah ke bawah untuk berhemat, kini perlahan mulai menguras isi dompet.
Tahu dan Tempe Jadi “Korban” Impor Kedelai
Keresahan paling nyata terjadi di lapak-lapak pasar tradisional. Lonjakan harga komoditas pangan ini tidak bisa dihindari mengingat ketergantungan Indonesia yang masih sangat masif terhadap bahan baku impor.
Tahu dan tempe, lauk pauk favorit masyarakat, adalah korban pertama dari badai kurs ini. Produsen perajin tahu dan tempe menjerit karena harga kedelai impor—yang dibeli menggunakan standar mata uang Dolar AS—melonjak drastis saat dikonversi ke Rupiah.
“Kami tidak punya pilihan. Bahan bakunya mahal sekali karena dolar naik. Kalau harga jual di pasar tidak dinaikkan, kami yang gulung tikar. Kalaupun harganya tetap, ukuran tahu tempe terpaksa kami perkecil,” ungkap salah satu perajin tempe merespons situasi Rupiah melemah.
Mi Instan Ikut Terkerek Naik
Tidak berhenti di lauk pauk tradisional, makanan cepat saji penyelamat akhir bulan seperti mi instan juga mulai menunjukkan tren kenaikan harga. Sama halnya dengan kedelai, bahan baku utama pembuatan mi instan adalah gandum, yang pasokannya hampir 100% didatangkan dari luar negeri.
Ketika harga tahu tempe hingga mi instan mulai merangkak naik secara bersamaan, ini menjadi indikator jelas terjadinya imported inflation (inflasi yang diimpor). Daya beli masyarakat yang belum pulih sepenuhnya pasca-pandemi kini kembali diuji dengan membengkaknya biaya makan sehari-hari.
Perlu Intervensi Ekstra dari Pemerintah
Merespons jeritan dari “dapur warga” ini, pemerintah dan otoritas terkait tidak bisa lagi sekadar mengimbau masyarakat untuk berhemat. Perlu ada langkah mitigasi yang konkret untuk mengamankan perut rakyat.
Beberapa langkah intervensi pasar yang mendesak dilakukan antara lain:
-
Subsidi Bahan Baku: Mengguyur subsidi selisih harga kedelai secara langsung kepada para perajin tahu dan tempe skala UMKM agar harga eceran di pasar tetap stabil.
-
Operasi Pasar Murah: Memperbanyak titik operasi pasar untuk komoditas substitusi guna memberikan alternatif pangan murah bagi masyarakat.
-
Penguatan Pangan Lokal: Menjadikan momentum krisis dolar ini sebagai cambuk untuk mengurangi ketergantungan impor dan mulai menggalakkan produksi kedelai serta gandum tropis (sorgum) di dalam negeri.
Masyarakat sangat memaklumi dinamika ekonomi global yang menekan kurs, namun perut yang lapar tidak bisa menunggu nilai tukar kembali normal. Kebijakan penyelamatan daya beli rakyat kini menjadi ujian nyata bagi ketangguhan ekonomi domestik.
Baca juga berita update lainnya disini: https://nakarimedia.com/
Baca juga berita update lainnya disini: https://binarnesia.com/






















