6a1112f0595b4
Ambil Peran Sesuai Kapasitas! Tidak Ikut Bangun Dapur MBG, Rektor UM: Lebih Tepat Lakukan Kajian Ilmiah

MALANG – Implementasi program strategis nasional Makan Bergizi Gratis (MBG) terus mengundang partisipasi aktif dari berbagai instansi, tak terkecuali institusi pendidikan tinggi. Namun, alih-alih terjun langsung dalam pembangunan infrastruktur fisik, Universitas Negeri Malang (UM) memilih jalur kontribusi yang berbeda dan terukur. Memutuskan tidak ikut bangun dapur MBG, Rektor UM: lebih tepat lakukan kajian ilmiah agar program unggulan pemerintah tersebut dapat berjalan secara efektif, efisien, dan tepat sasaran.

Langkah ini dinilai sebagai bentuk kedewasaan institusi pendidikan dalam menempatkan diri sesuai dengan kapasitas inti (core competence) mereka, yakni pada ranah akademik, riset, dan pengabdian masyarakat.

Menjaga Marwah Akademik Kampus

Pihak rektorat menegaskan bahwa pembangunan fisik dapur umum, pengadaan alat masak, hingga operasional distribusi logistik harian secara teknis bukanlah ranah perguruan tinggi. Hal tersebut lebih proporsional jika dikelola langsung oleh pemerintah daerah, TNI/Polri, institusi kementerian terkait, maupun pihak swasta yang memiliki spesialisasi di bidang tersebut.

Kampus harus hadir sebagai mitra kritis sekaligus konseptual bagi pemerintah.

“Pesan yang ingin disampaikan dari keputusan tidak ikut bangun dapur MBG, Rektor UM: lebih tepat lakukan kajian ilmiah ini sangatlah logis. Kampus dipenuhi oleh deretan pakar gizi, ahli pendidikan, dan ekonom. Tugas utama kami adalah memastikan standar pemenuhan nutrisi terjaga, bukan bertindak sebagai kontraktor fisik,” urai salah satu pengamat kebijakan pendidikan menanggapi diskursus ini.

Tiga Fokus Kontribusi Ilmiah Universitas

Sebagai bentuk nyata Tridharma Perguruan Tinggi, UM memproyeksikan tiga area intervensi ilmiah yang krusial untuk mengawal dan menyempurnakan kesuksesan program MBG di lapangan:

  1. Penelitian Formulasi Gizi Lokal: Menyusun rekomendasi menu sehat yang seimbang namun tetap berbasis kearifan lokal dan hasil pertanian daerah setempat. Hal ini bertujuan untuk menekan biaya logistik sekaligus memberdayakan petani sekitar sekolah.

  2. Audit Manajemen Rantai Pasok: Melakukan riset pemodelan terkait efisiensi distribusi bahan makanan segar dari hulu ke hilir untuk mencegah terjadinya kebocoran anggaran, bahan makanan busuk, atau pemborosan pangan (food waste).

  3. Evaluasi Dampak Kognitif Siswa: Menjalankan studi berkesinambungan (longitudinal study) untuk mengukur secara empiris korelasi antara intervensi gizi harian tersebut dengan peningkatan daya konsentrasi, kehadiran, serta prestasi belajar siswa di kelas.

Sinergi Kebijakan Berbasis Data

Melalui pendekatan akademik ini, Universitas Negeri Malang berharap dapat secara berkala menyuplai rekomendasi kebijakan berbasis data (evidence-based policy) kepada pemerintah pusat dan daerah pemangku kepentingan. Keberhasilan program sebesar MBG mutlak membutuhkan sinergi kolaboratif, di mana setiap elemen masyarakat dan institusi bergerak pada rel keahliannya masing-masing demi membangun generasi emas Indonesia.

Baca juga berita update lainnya disini: https://nakarimedia.com/

Baca juga berita update lainnya disini: https://binarnesia.com/