JAKARTA – Di tengah bayang-bayang tekanan terhadap mata uang Garuda akibat sentimen geopolitik global dan kebijakan bank sentral dunia, pemerintah akhirnya memberikan sinyal penenang bagi pasar keuangan dan sektor riil. Dalam perumusan asumsi dasar ekonomi makro, pemerintahan Presiden Prabowo targetkan rupiah stabil 16.800 sampai 17.500 per dollar AS.
Target ini dinilai cukup realistis sekaligus ambisius, mengingat belakangan ini nilai tukar Rupiah sempat tertekan menembus level Rp 17.700 per Dolar AS. Rentang target ini diharapkan dapat memberikan kepastian bagi dunia usaha dalam menyusun perencanaan bisnis ke depan.
Sinergi Kebijakan Fiskal dan Moneter
Rentang nilai tukar yang dicanangkan pemerintah ini merupakan bagian dari Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) yang menjadi fondasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Untuk menarik kembali nilai tukar ke zona aman, pemerintah tidak bisa bekerja sendirian. Diperlukan orkestrasi yang solid antara kebijakan fiskal dari Kementerian Keuangan dan kebijakan moneter dari Bank Indonesia (BI).
“Pemerintah sangat menyadari beban psikologis pasar saat ini. Oleh karena itu, ketika Prabowo targetkan rupiah stabil 16.800 sampai 17.500 per dollar AS, ini bukan sekadar angka di atas kertas. Ini adalah komitmen bahwa intervensi pasar, pengelolaan devisa, dan iklim investasi akan digenjot habis-habisan untuk menopang mata uang kita,” ungkap salah satu ekonom senior menanggapi target asumsi makro tersebut.
Tiga Jurus Utama Mengamankan Target Kurs
Untuk merealisasikan target penguatan dan stabilitas nilai tukar tersebut, pemerintah dan otoritas terkait telah menyiapkan sejumlah langkah strategis, antara lain:
-
Optimalisasi Devisa Hasil Ekspor (DHE): Memastikan para eksportir, khususnya di sektor pertambangan dan perkebunan, memarkir Dolar mereka di dalam negeri lebih lama untuk menambah pasokan valas domestik.
-
Mengerem Impor Non-Esensial: Memperketat arus barang impor yang tidak krusial dan mendorong penggunaan komponen dalam negeri (TKDN) agar kebutuhan Dolar untuk belanja ke luar negeri dapat ditekan.
-
Hilirisasi Lanjutan: Mengundang lebih banyak Foreign Direct Investment (FDI) yang membawa modal dalam bentuk valuta asing untuk membangun smelter dan pabrik pengolahan di Indonesia.
Menjaga Momentum Daya Beli dan Inflasi
Stabilitas kurs di kisaran Rp 16.800 – Rp 17.500 menjadi kunci utama untuk mencegah lonjakan inflasi barang impor (imported inflation), terutama harga bahan pangan dan energi (BBM) yang sangat sensitif terhadap fluktuasi Dolar.
Dengan tercapainya target ini, sektor industri manufaktur dan makanan-minuman tidak perlu lagi melakukan penyesuaian harga yang drastis, sehingga daya beli masyarakat tetap terjaga dan pertumbuhan ekonomi nasional dapat melaju sesuai jalur yang diharapkan.
Baca juga berita update lainnya disini: https://nakarimedia.com/
Baca juga berita update lainnya disini: https://binarnesia.com/























