WASHINGTON D.C. – Di tengah mobilisasi militer besar-besaran dan dukungan dari aliansi Eropa (E3), pemerintah Amerika Serikat justru menghadapi tantangan dari dalam rumah sendiri. Berdasarkan laporan terbaru pada Selasa (3/3/2026), jajak pendapat nasional menunjukkan bahwa lebih dari 60% warga AS menentang keterlibatan militer secara langsung dalam konflik dengan Iran.
Narasi “America First” yang selama ini diusung Trump kini berbalik menyerang balik sang Presiden. Warga merasa bahwa anggaran triliunan dolar lebih mendesak untuk diperuntukkan bagi masalah domestik daripada membiayai perang baru di Timur Tengah.
Alasan Utama Penolakan: Trauma “Forever Wars”
Ada beberapa alasan krusial mengapa publik Amerika Serikat mengambil posisi berseberangan dengan kebijakan luar negeri pemerintahannya:
-
Beban Ekonomi: Lonjakan harga energi dan inflasi global akibat ketegangan di Selat Hormuz mulai terasa di kantong warga AS. Perang dianggap hanya akan memperburuk situasi ekonomi 2026.
-
Trauma Sejarah: Kegagalan misi militer jangka panjang di masa lalu (Afganistan & Irak) membuat publik skeptis terhadap klaim “kemenangan cepat” yang dijanjikan Trump.
-
Prioritas Domestik: Adanya desakan agar dana perang dialihkan untuk perbaikan infrastruktur, pendidikan, dan sistem kesehatan yang sedang mengalami tekanan di awal tahun 2026.
-
Kurangnya Bukti Kuat: Sebagian publik merasa intelijen yang disajikan pemerintah belum cukup kuat untuk menjustifikasi serangan besar-besaran yang berisiko memicu Perang Dunia ke-3.
Gelombang Protes di Kota Besar Aksi unjuk rasa bertajuk “No War with Iran” mulai bermunculan di New York, Los Angeles, dan depan Gedung Putih. Massa menuntut agar diplomasi diutamakan daripada pengerahan kapal induk.
Perpecahan di Kongres Partai oposisi mulai menggunakan data polling ini untuk menekan pemerintahan Trump agar membatasi wewenang perang Presiden (War Powers Resolution), mengklaim bahwa tindakan militer tersebut tidak memiliki mandat dari rakyat.
Dampak pada Bursa Saham Ketidakpastian politik domestik ini membuat pasar Wall Street bergerak fluktuatif, karena investor khawatir ketidakstabilan di dalam negeri AS akan memperlambat respon ekonomi terhadap krisis energi global.
“Suara Rakyat Adalah Benteng Terakhir Diplomasi”
Kritik terhadap Trump bukan hanya datang dari kalangan aktivis, tapi juga dari keluarga veteran yang tidak ingin melihat pengiriman pasukan kembali ke zona konflik.
“Presiden boleh saja menetapkan target 4 pekan atau 4 tahun, tapi ia lupa bertanya pada rakyat yang membayar pajak untuk peluru-peluru tersebut. Mayoritas dari kami tidak ingin melihat anak-anak kami dikirim ke sana untuk perang yang sebenarnya bisa dihindari dengan meja perundingan,” ungkap seorang aktivis kemanusiaan di Washington, Selasa (3/3/2026).
Baca juga berita update lainnya disini: https://nakarimedia.com/
Baca juga berita update lainnya disini: https://binarnesia.com/















