6a16872d39734
Transformasi Belanja Ternak! Marak Fenomena Kurban Digital, Gubernur Khofifah Sebut Menunjang Penjualan Peternak Lokal

SURABAYA – Menjelang perayaan Hari Raya Idul Adha, kebiasaan masyarakat dalam mempersiapkan ibadah kurban perlahan mengalami pergeseran yang signifikan. Jika dahulu pembeli harus turun langsung ke kandang atau lapak pinggir jalan untuk tawar-menawar, kini smartphone menjadi ujung tombak transaksi. Merespons tren yang terus meningkat di wilayah Jawa Timur, marak fenomena kurban digital, Gubernur Khofifah sebut menunjang penjualan dan memberikan napas baru bagi para peternak lokal di daerah.

Inovasi ini dinilai bukan sekadar tren sesaat, melainkan bentuk adaptasi cerdas sektor agrobisnis dalam menghadapi era digitalisasi dan perubahan gaya hidup masyarakat urban.

Jembatan Baru Antara Peternak Desa dan Pembeli Kota

Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, memberikan apresiasi tinggi terhadap bermunculannya platform dan aplikasi jual beli hewan kurban, hingga inisiatif peternak yang memanfaatkan media sosial dan lokapasar (e-commerce). Kehadiran teknologi ini memangkas rantai distribusi yang panjang, sehingga peternak bisa mendapatkan margin keuntungan yang lebih adil tanpa harus melalui banyak perantara (tengkulak).

“Ini adalah kemajuan luar biasa bagi ekonomi kerakyatan kita. Fakta bahwa saat ini marak fenomena kurban digital, Gubernur Khofifah sebut menunjang penjualan hewan ternak dari pelosok desa agar bisa dibeli langsung oleh warga di kota-kota besar, bahkan dari luar provinsi, hanya dengan bermodalkan katalog virtual,” puji seorang pengamat ekonomi syariah dari universitas negeri di Surabaya.

Tiga Keuntungan Utama Skema Kurban Digital

Berdasarkan analisis pasar dan testimoni dari para peternak yang tergabung dalam koperasi digital, fenomena ini membawa tiga keuntungan fundamental:

  1. Perluasan Jangkauan Pasar ( Market Reach): Peternak sapi di pedesaan (seperti di Tuban, Probolinggo, atau Magetan) tidak lagi terbatas menjual hewannya di pasar hewan lokal. Katalog digital memungkinkan mereka mendapatkan pembeli dari Jakarta, Bandung, hingga luar pulau.

  2. Transparansi Kualitas dan Bobot Hewan: Melalui fitur video call (live streaming) dan pembaruan foto secara berkala, pembeli bisa memantau kondisi fisik ternak secara langsung, memastikan bobotnya sesuai, dan mengecek sertifikat kesehatan hewan (bebas PMK/LSD) yang diunggah oleh peternak.

  3. Kepraktisan Pembayaran dan Penyaluran: Bagi masyarakat urban yang sibuk, kurban digital menawarkan kepraktisan tingkat tinggi. Transaksi dapat dilakukan secara cashless (nontunai), dan pembeli bisa memilih opsi apakah hewan akan dikirim ke alamat rumah atau dipotong dan disalurkan langsung oleh mitra lembaga amil zakat ke daerah prasejahtera.

Pengawasan Kesehatan Tetap Menjadi Prioritas

Meski transaksi dilakukan di dunia maya, Gubernur memastikan bahwa pengawasan di dunia nyata tetap diperketat. Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur telah diinstruksikan untuk terus turun ke sentra-sentra peternakan guna memberikan vaksinasi, memasang e-ear tag (anting telinga digital), dan menerbitkan Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH). Jaminan kesehatan ternak ini sangat penting untuk mempertahankan kepercayaan konsumen terhadap ekosistem kurban digital yang kini menjadi primadona baru penggerak ekonomi daerah.

Baca juga berita update lainnya disini: https://nakarimedia.com/

Baca juga berita update lainnya disini: https://binarnesia.com/