JAKARTA – Tragedi hilangnya nyawa seorang pelajar Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kabupaten Siak, Riau, akibat ledakan senapan rakitan berbasis cetak 3D (3D printing) kini berbuntut panjang. Memasuki hari Jumat (10/4/2026), insiden yang terjadi di tengah kegiatan praktik sains tersebut langsung memicu reaksi keras dari gedung parlemen Senayan.
Komisi X DPR RI secara resmi menyampaikan belasungkawa yang mendalam kepada keluarga korban. Namun, di balik duka tersebut, terselip teguran keras yang dialamatkan kepada pihak sekolah dan kementerian terkait. DPR menilai ada kelalaian fatal dalam pengawasan dan penerapan Standard Operating Procedure (SOP) keselamatan di lingkungan laboratorium sekolah.
Sebagai tindak lanjut, DPR dengan tegas meminta pemerintah—dalam hal ini Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah—untuk segera melakukan evaluasi total dan audit menyeluruh terhadap seluruh kurikulum praktik sains dan kegiatan ekstrakurikuler di tingkat pendidikan dasar hingga menengah.
“Inovasi dan pembelajaran STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) itu sangat bagus untuk mengejar ketertinggalan teknologi bangsa. Tapi, harus ada batasan yang jelas! Merakit alat pelontar proyektil bertenaga gas atau udara bertekanan tinggi jelas bukan konsumsi anak SMP. Kami meminta pemerintah segera menerbitkan pedoman ketat, mana inovasi yang aman dan mana yang dilarang keras dipraktikkan di sekolah,” tegas perwakilan Pimpinan Komisi X DPR RI.
Lebih lanjut, wakil rakyat juga menyoroti ketersediaan alat pelindung diri (APD) di sekolah. Kegiatan praktik yang melibatkan reaksi kimia, tekanan tinggi, atau alat pemotong wajib dilengkapi dengan penggunaan kacamata pelindung (safety goggles), sarung tangan, dan pengawasan ketat dari guru yang memang memiliki sertifikasi ahli di bidangnya.
Kejadian di Riau ini harus menjadi alarm darurat nasional. Sekolah sejatinya adalah tempat berlindung yang paling aman bagi anak-anak untuk menimba ilmu, bukan arena uji coba yang membahayakan nyawa. Publik kini menanti langkah nyata dan cepat dari pemerintah agar tragedi di awal April 2026 ini benar-benar menjadi kejadian pahit yang terakhir kalinya di dunia pendidikan Indonesia.
Baca juga berita update lainnya disini: https://nakarimedia.com/
Baca juga berita update lainnya disini: https://binarnesia.com/















