6865272aa68b8
Usai Bertemu Prabowo, Said Didu Tegaskan Tetap Beroposisi Terhadap Oligarki: "Kami Tetap di Luar"

JAKARTA – Panggung politik nasional kembali dihangatkan oleh pertemuan antara dua tokoh yang kerap berada di sisi berseberangan. Tokoh kritis Said Didu terpantau melakukan pertemuan tertutup dengan Presiden Prabowo Subianto pada Senin (2/2/2026).

Meski pertemuan berlangsung di lingkungan Istana, Said Didu menegaskan bahwa kehadirannya tidak mengubah sikap politiknya yang selama ini dikenal vokal terhadap kebijakan pemerintah yang dinilai tidak berpihak pada rakyat.

Komitmen Menjadi Penyeimbang Kekuasaan

Usai pertemuan tersebut, Said Didu memberikan pernyataan tegas kepada awak media terkait posisinya dalam peta politik nasional tahun 2026. Ia menyatakan bahwa meskipun ada ruang dialog dengan kepala negara, ia dan kelompoknya akan tetap menjadi oposisi terhadap oligarki.

Beberapa poin krusial yang disampaikan Said Didu meliputi:

  • Independensi Sikap: Pertemuan dengan Presiden bukan berarti bergabung ke dalam koalisi pemerintahan.

  • Fokus Kritik: Said Didu menyoroti dominasi kekuatan ekonomi tertentu (oligarki) yang dinilai masih sangat kuat memengaruhi kebijakan publik.

  • Fungsi Kontrol: Menegaskan pentingnya peran penyeimbang agar jalannya pemerintahan tetap berada pada koridor konstitusi dan kepentingan rakyat banyak.

Dinamika Pertemuan Tokoh Bangsa

Pertemuan ini dipandang oleh banyak pengamat sebagai upaya Presiden Prabowo untuk merangkul berbagai elemen masyarakat, termasuk mereka yang selama ini menjadi pengkritik paling keras. Langkah ini dinilai sebagai bagian dari upaya rekonsiliasi nasional guna memperkuat stabilitas politik di tahun 2026.

“Kami akan tetap beroposisi terhadap oligarki. Tugas kami adalah memastikan bahwa kedaulatan negara tidak tergadaikan oleh kepentingan segelintir elit,” ujar Said Didu di depan kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta.

Harapan Demokrasi yang Sehat

Sikap yang ditunjukkan oleh Said Didu dianggap sebagai sinyal positif bagi kesehatan demokrasi di Indonesia. Keberadaan tokoh yang tetap memilih jalur kritis meski diundang secara resmi oleh kekuasaan memberikan harapan akan adanya pengawasan (check and balances) yang efektif.

Publik kini menantikan bagaimana dampak pertemuan ini terhadap arah kebijakan ekonomi-politik pemerintah di masa mendatang, terutama terkait isu-isu sumber daya alam dan keadilan sosial yang sering disuarakan oleh kelompok kritis.

Baca juga berita update lainnya disini: https://nakarimedia.com/

Baca juga berita update lainnya disini: https://binarnesia.com/