JAKARTA – Kepanikan belum benar-benar pergi dari pesisir Sulawesi Utara. Memasuki Kamis sore (2/4/2026), rentetan aktivitas tektonik pasca-gempa dahsyat bermagnitudo 7,6 (M 7,6) yang mengguncang perairan dekat Bitung justru menunjukkan tren peningkatan yang signifikan. Data terbaru dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi bahwa hingga sore ini, telah terjadi lonjakan tajam gempa susulan (aftershocks) yang jumlahnya mencapai 180 kali!
Angka ini melonjak hampir dua kali lipat dari laporan pada pagi harinya yang baru menyentuh angka 93 gempa susulan. Rentetan guncangan dengan magnitudo yang bervariasi ini terus-menerus merobek ketenangan warga, khususnya mereka yang bermukim di Kabupaten Minahasa, Kota Bitung, dan sebagian wilayah Maluku Utara. Meskipun mayoritas gempa susulan berada pada skala yang lebih kecil dari gempa utamanya, frekuensinya yang sangat rapat dan intens membuat warga terus berada dalam kondisi siaga satu.
Tim mitigasi di lapangan melaporkan bahwa ratusan warga kini memilih untuk mengungsi secara mandiri dan membangun tenda-tenda darurat di tanah lapang, fasilitas umum, dan dataran yang lebih tinggi. Trauma akibat guncangan awal M 7,6—yang kekuatannya dirasakan sangat kuat hingga menyebabkan sejumlah bangunan retak dan perabotan berjatuhan—membuat masyarakat tak berani mengambil risiko untuk kembali tidur di bawah atap rumah mereka malam ini.
Menanggapi lonjakan 180 gempa susulan ini, Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG kembali menegaskan pentingnya edukasi mitigasi. Masyarakat diimbau untuk tidak lengah dan segera menjauhi area tebing yang rawan longsor, serta bangunan-bangunan tua atau yang konstruksinya sudah mengalami keretakan struktural. Guncangan berulang sekecil apa pun sangat berpotensi meruntuhkan bangunan yang pondasinya telah melemah akibat gempa utama.
Di sisi lain, Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) kini berpacu dengan waktu. Penyaluran logistik darurat berupa makanan siap saji, selimut, obat-obatan, dan pendirian tenda komunal yang memadai harus segera diprioritaskan. Distribusi bantuan menjadi sangat krusial mengingat malam hari di area pengungsian kerap diwarnai dengan udara dingin, yang rentan menurunkan daya tahan tubuh warga, terutama lansia dan anak-anak.
Kita terus berharap agar patahan lempeng di wilayah tersebut segera menemukan keseimbangannya kembali. Mari kita doakan agar seluruh warga di Bitung dan sekitarnya diberikan kekuatan, ketabahan, dan keselamatan di tengah rentetan ujian alam yang tiada henti ini.
Baca juga berita update lainnya disini: https://nakarimedia.com/
Baca juga berita update lainnya disini: https://binarnesia.com/















