SAMARINDA – Angka Rp160 juta per bulan biasanya cukup untuk mencicil sebuah apartemen mewah atau membeli mobil kota (city car) baru setiap dua bulan sekali. Namun, bagi operasional Wali Kota Samarinda di tahun 2026 ini, angka tersebut dialokasikan untuk menyewa satu unit Land Rover Defender. Langkah ini memicu perdebatan mengenai efisiensi anggaran daerah (APBD) di tengah kebutuhan pembangunan infrastruktur kota yang masih masif.
Land Rover Defender: Si Gagah yang Mahal
Mobil yang digunakan dilaporkan merupakan seri Land Rover Defender 110 generasi terbaru. Mobil ini memang dikenal sebagai “raja segala medan” yang menggabungkan kemewahan interior dengan ketangguhan mesin off-road. Di pasar otomotif Indonesia tahun 2026, harga unit baru mobil ini masih sangat tinggi, bergantung pada varian mesin yang digunakan.
| Varian Land Rover Defender | Estimasi Harga (Off the Road) |
| Defender 110 S (2.0L) | Rp2,6 Miliar – Rp2,9 Miliar |
| Defender 110 SE (3.0L) | Rp3,1 Miliar – Rp3,5 Miliar |
| Defender 110 V8 (5.0L) | Rp4,8 Miliar – Rp5,2 Miliar |
Catatan: Harga dapat bervariasi tergantung kustomisasi dan pajak daerah.
Mengapa Pilih Sewa Rp160 Juta/Bulan?
Keputusan menggunakan skema sewa ketimbang membeli unit baru sering kali didasari oleh alasan “efisiensi pemeliharaan”. Dengan menyewa, pemerintah daerah biasanya tidak perlu lagi memikirkan biaya servis rutin, pajak tahunan, asuransi all-risk, hingga penyusutan nilai aset (depreciation cost).
Namun, jika dihitung secara matematis, biaya sewa Rp160 juta per bulan berarti menghabiskan Rp1,92 miliar dalam satu tahun. Dalam durasi dua tahun saja, biaya sewa tersebut sudah hampir setara dengan harga beli satu unit baru Defender 110 varian terendah. Hal inilah yang kemudian memantik kritik mengenai akuntabilitas penggunaan dana publik di Samarinda pada tahun 2026 ini.
Spesifikasi yang Ditawarkan
Defender 110 yang digunakan kabarnya telah dilengkapi dengan fitur keamanan tingkat tinggi dan kenyamanan maksimal untuk mendukung mobilitas pejabat daerah di medan Kalimantan yang bervariasi. Mulai dari sistem suspensi udara (Air Suspension) yang bisa diatur ketinggiannya, hingga sistem hiburan Pivi Pro yang canggih.
Meski gagah secara visual, penggunaan mobil mewah berharga miliaran rupiah ini dianggap kurang selaras dengan semangat kesederhanaan pejabat publik di tengah kondisi ekonomi masyarakat yang masih berupaya pulih di pertengahan 2026.
Baca juga berita update lainnya disini: https://nakarimedia.com/
Baca juga berita update lainnya disini: https://binarnesia.com/















