651ced7b56844
Serangan Siber Makin Canggih: Pakar Industri Tekankan Pentingnya Respons Cepat dalam 72 Jam Pertama

JAKARTA – Di tengah pesatnya transformasi digital, ancaman keamanan siber kini bertransformasi menjadi jauh lebih kompleks dan sulit dideteksi. Menanggapi tren ini, para pelaku industri dan pakar teknologi informasi memberikan peringatan keras: keberhasilan penanganan peretasan sangat bergantung pada tindakan yang diambil dalam 72 jam pertama.

Periode ini dikenal sebagai “Golden Hours” atau jam emas, di mana keputusan yang tepat dapat meminimalkan kerugian finansial dan mencegah kebocoran data yang lebih luas pada Senin (2/2/2026).

Mengapa 72 Jam Pertama Begitu Krusial?

Dalam krisis siber, waktu adalah aset yang paling berharga. Berdasarkan diskusi industri terbaru, keterlambatan respons lebih dari tiga hari sering kali membuat pelaku memiliki cukup waktu untuk menanamkan backdoor atau menyebarkan ransomware ke seluruh jaringan inti.

Berikut adalah alasan utama mengapa 72 jam pertama menjadi penentu:

  • Identifikasi Sumber: Mengetahui dari mana celah berasal sebelum pelaku menutup jejak mereka.

  • Isolasi Sistem: Memutus akses jaringan yang terinfeksi agar tidak merembet ke server cadangan (backup).

  • Komunikasi Stakeholder: Memenuhi kewajiban regulasi untuk melaporkan adanya insiden kepada otoritas dan pengguna terdampak.

Tantangan Serangan Siber di Tahun 2026

Pelaku industri menyoroti bahwa serangan saat ini sering kali melibatkan kecerdasan buatan (AI) untuk melakukan phishing yang sangat personal atau menggunakan teknik zero-day exploit. Hal ini membuat prosedur operasi standar (SOP) lama tidak lagi efektif jika tidak disertai dengan kecepatan eksekusi.

“Dalam dunia siber yang makin kompleks, bukan soal ‘apakah’ Anda akan diserang, tapi ‘kapan’. Dan saat itu terjadi, tim IT Anda hanya punya waktu tiga hari untuk membuktikan apakah pertahanan mereka berfungsi atau runtuh total,” tegas salah satu praktisi keamanan siber di Jakarta.

Perusahaan kini didorong untuk tidak hanya berinvestasi pada firewall yang mahal, tetapi juga pada pelatihan simulasi krisis (cyber drill) agar tim respons insiden siap bertindak secara otomatis dan presisi saat alarm bahaya berbunyi.

Baca juga berita update lainnya disini: https://nakarimedia.com/

Baca juga berita update lainnya disini: https://binarnesia.com/