699a702f85168
Rekor Dunia Pecah! Lukisan Gua Berusia 67.800 Tahun Ditemukan di Muna, Sulawesi Tenggara

MUNA, SULAWESI TENGGARA – Dunia arkeologi internasional kembali diguncang oleh penemuan dari tanah air. Pada Minggu (22/2/2026), para peneliti mengonfirmasi temuan lukisan gua berusia 67.800 tahun di wilayah Pulau Muna, Sulawesi Tenggara. Angka ini secara resmi mematahkan rekor dunia sebelumnya dan memosisikan Indonesia sebagai pusat peradaban seni tertua di dunia.

Penemuan ini membuktikan bahwa nenek moyang manusia di nusantara sudah memiliki kemampuan kognitif dan seni yang sangat maju jauh lebih awal dari yang diperkirakan sebelumnya oleh para ahli global.

Menggeser Dominasi Eropa dan Maros

Selama puluhan tahun, Eropa dianggap sebagai pusat seni cadas. Namun, dalam satu dekade terakhir, Sulawesi terus memberikan kejutan. Lukisan di Muna ini lebih tua sekitar 16.000 tahun dibandingkan lukisan di Leang Karampuang, Maros, yang sebelumnya memegang rekor.

Poin-poin penting penemuan di Muna:

  • Metode Penentuan Umur: Peneliti menggunakan teknologi penanggalan mutakhir U-series (Uranium-series) pada lapisan kalsit yang tumbuh di atas lukisan tersebut.

  • Objek Lukisan: Menggambarkan sosok figuratif dan interaksi manusia dengan satwa endemik purba, menunjukkan adanya kemampuan bercerita (storytelling) sejak puluhan ribu tahun lalu.

  • Lokasi Situs: Ditemukan di salah satu gua karst yang tersembunyi di pedalaman Pulau Muna, yang selama ini memang dikenal kaya akan situs purbakala seperti Liang Kobori.

“Nenek Moyang Kita Adalah Pelukis Pertama Dunia”

Penemuan ini tidak hanya menjadi kebanggaan warga Sulawesi Tenggara, tetapi juga menjadi bukti penting bagi teori migrasi manusia purba ke wilayah Pasifik. Hal ini menunjukkan bahwa Sulawesi adalah titik singgah yang sangat vital dengan kebudayaan yang sudah sangat mapan.

“Ini bukan sekadar coretan di dinding. Ini adalah bukti bahwa 67.800 tahun yang lalu, di Pulau Muna, manusia sudah mampu berpikir abstrak dan mengekspresikan diri mereka melalui seni. Indonesia kini sah menjadi perpustakaan sejarah tertua bagi umat manusia,” ungkap salah satu peneliti utama, Minggu (22/2/2026).

Upaya pelestarian kini menjadi prioritas utama agar situs berharga ini tidak rusak oleh faktor alam maupun tangan-tangan tidak bertanggung jawab.

Baca juga berita update lainnya disini: https://nakarimedia.com/

Baca juga berita update lainnya disini: https://binarnesia.com/