JAKARTA – Sebuah anomali menarik kembali menjadi perbincangan global. Di saat negara-negara maju dengan pendapatan per kapita selangit justru bergulat dengan isu kesepian dan depresi, Indonesia justru mencuat sebagai salah satu negara dengan indeks kebahagiaan atau kesehatan mental tertinggi di dunia.
Temuan ini seolah menjadi “tamparan” bagi paradigma pembangunan konvensional yang selama puluhan tahun didewakan oleh banyak negara: bahwa kebahagiaan berbanding lurus dengan kekayaan materi.
Menggugat Dewa “Ekonomi”
Selama ini, keberhasilan pembangunan sebuah negara melulu diukur dari Produk Domestik Bruto (PDB) atau pertumbuhan ekonomi fisik. Namun, fakta bahwa warga Indonesia merasa lebih “sejahtera” secara batin dibandingkan warga negara Barat yang kaya raya, memicu gugatan keras terhadap cara pandang tersebut.
Para pengamat sosial menilai, sudah saatnya pemerintah tidak hanya fokus mengejar angka pertumbuhan ekonomi, pembangunan gedung pencakar langit, atau jalan tol semata. Pembangunan seutuhnya harus menyentuh aspek kesejahteraan subjektif (subjective well-being). Apa gunanya negara kaya jika warganya stress, cemas, dan merasa terasing?

Kekuatan “Gotong Royong” sebagai Mata Uang
Apa rahasia kebahagiaan Indonesia? Jawabannya kemungkinan besar terletak pada Modal Sosial. Budaya guyub, gotong royong, kehidupan religius yang kuat, dan ikatan kekeluargaan yang erat menjadi jaring pengaman sosial (social safety net) yang tidak dimiliki negara-negara individualis.
Di Indonesia, masalah berat terasa lebih ringan karena ditanggung bersama (kolektif). “Makan nggak makan asal kumpul” mungkin terdengar kuno, tapi filosofi kebersamaan itulah yang ternyata menjaga kewarasan bangsa ini di tengah gempuran kesulitan ekonomi.
Arah Baru Kebijakan Publik
Momentum ini seharusnya menjadi sinyal bagi pembuat kebijakan. Pembangunan ke depan harus lebih humanis. Indikator kesuksesan bukan lagi sekadar berapa banyak pabrik yang dibangun, tapi seberapa berkualitas ruang interaksi warga, seberapa mudah akses kesehatan mental, dan seberapa terjaga budaya luhur bangsa.
Indonesia membuktikan bahwa uang bukan satu-satunya sumber kebahagiaan. Namun, tantangannya adalah: Bagaimana mempertahankan kebahagiaan ini sembari tetap mengejar ketertinggalan ekonomi?
Baca juga berita update lainnya disini: https://nakarimedia.com/
Baca juga berita update lainnya disini: https://binarnesia.com/



















