JAKARTA – Impian untuk menonton langsung aksi bintang lapangan hijau di Piala Dunia 2026 tampaknya membutuhkan pengorbanan finansial yang jauh lebih besar. Belakangan ini, linimasa media sosial dipenuhi keluhan dari para suporter di berbagai belahan benua. Mereka menyoroti lonjakan harga tiket Piala Dunia 2026 yang dinilai terlalu mahal, bahkan jika dibandingkan dengan edisi Qatar 2022 silam.
Merespons gelombang protes yang makin memanas di akhir pekan ini, Sabtu (4/4/2026), Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) akhirnya memberikan klarifikasi resmi. Melalui perwakilannya, FIFA menjabarkan beberapa alasan logis dan struktural mengapa harga tiket untuk edisi kali ini harus disesuaikan secara signifikan.
Pertama, Skala Turnamen yang Membengkak. FIFA mengingatkan bahwa Piala Dunia 2026 adalah edisi terbesar sepanjang sejarah. Untuk pertama kalinya, turnamen ini diikuti oleh 48 negara dan digelar melintasi tiga negara raksasa: Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Skala yang masif ini otomatis membuat biaya operasional, logistik, dan keamanan meroket tajam.
Kedua, Faktor Inflasi Global dan Fasilitas Premium. FIFA menyoroti kondisi ekonomi makro dunia yang sedang dilanda inflasi. Selain itu, stadion-stadion yang digunakan, terutama di kawasan Amerika Utara, adalah venue berstandar ultra-modern dengan teknologi tinggi dan fasilitas kelas wahid. Biaya sewa dan operasional venue super megah ini tentu berimbas langsung pada harga dasar tiket.
Ketiga, Strategi Melawan Calo Tiket. Salah satu poin menarik dari penjelasan FIFA adalah alasan keamanan pasar. Dengan menetapkan harga resmi yang lebih kompetitif pada kategori tertentu, FIFA mengklaim ini adalah strategi untuk membunuh pasar gelap atau calo. Mereka ingin memastikan perputaran uang tetap berada di jalur resmi dan meminimalisasi penipuan yang kerap merugikan fans.
Bagi suporter asal Indonesia, penjelasan FIFA ini tentu menjadi realita yang cukup pahit. Belum lagi, fans Tanah Air harus memperhitungkan biaya ekstra yang angkanya tak kalah fantastis: tiket pesawat lintas benua, visa, akomodasi, hingga biaya hidup di Amerika Utara yang tergolong tinggi.
Memasuki bulan April 2026 ini, pilihannya kini kembali ke tangan para suporter. Kalau memang tekad sudah bulat untuk terbang ke Benua Amerika, maka mode “hemat ekstrem” harus dimulai dari sekarang. Namun, bagi yang dompetnya belum mumpuni, bersiap-siaplah meramaikan tradisi nobar (nonton bareng) di warkop atau kafe terdekat. Toh, euforia Piala Dunia tetap akan terasa seru ke mana pun kita menontonnya!
Baca juga berita update lainnya disini: https://nakarimedia.com/
Baca juga berita update lainnya disini: https://binarnesia.com/















