6a0b2e4e9dbf5
Bangga! Produk Pangan RI Mulai Dilirik di SIAL Shanghai, MoU Tembus Rp 619 Miliar

SHANGHAI – Industri makanan dan minuman (mamin) Indonesia kembali membuktikan daya saingnya di kancah global. Keikutsertaan delegasi nusantara dalam pameran bergengsi Salon International de l’Alimentation (SIAL) Shanghai membuahkan hasil yang sangat manis. Kabar baik bahwa produk pangan RI mulai dilirik di SIAL Shanghai, MoU tembus Rp 619 miliar menjadi bukti nyata tingginya minat pasar internasional terhadap cita rasa Indonesia.

Pameran inovasi makanan dan minuman terbesar di Asia ini menjadi panggung emas bagi para pengusaha dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Indonesia untuk menembus dominasi pasar Tiongkok yang sangat masif.

Kualitas dan Autentisitas Rasa Jadi Daya Tarik Utama

Tingginya nilai kesepakatan dagang ini tidak lepas dari kualitas produk yang ditawarkan. Konsumen dan buyer dari Tiongkok maupun negara Asia lainnya sangat mengapresiasi inovasi produk pangan dari Indonesia yang mengedepankan bahan baku alami, rempah-rempah eksotis, serta sertifikasi halal yang terjamin.

Beberapa komoditas yang menjadi primadona dan paling banyak diburu oleh para importir dalam pameran tersebut antara lain:

  1. Kopi dan Teh Spesialti: Kopi luwak, arabika gayo, dan teh hitam premium yang memiliki profil rasa yang unik.

  2. Camilan Sehat dan Olahan Laut: Keripik buah tropis, biskuit gandum, hingga produk perikanan olahan bernilai tambah tinggi.

  3. Bumbu dan Rempah Cepat Saji: Bumbu rendang, sambal kemasan, dan santan cair yang sangat diminati oleh industri perhotelan dan restoran di Tiongkok.

“Ini adalah pencapaian yang luar biasa. Fakta bahwa produk pangan RI mulai dilirik di SIAL Shanghai hingga MoU tembus Rp 619 miliar menunjukkan bahwa produk kita bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan pemain utama dalam rantai pasok pangan global,” ujar perwakilan Atase Perdagangan RI di Tiongkok yang turut mengawal jalannya pameran.

Membuka Jalan bagi Ekspansi UMKM Nasional

Nilai Memorandum of Understanding (MoU) sebesar Rp 619 miliar ini diyakini hanyalah permulaan. Kesepakatan awal ini diharapkan dapat berkembang menjadi kontrak dagang jangka panjang yang akan menggerakkan roda ekonomi di dalam negeri.

Masuknya produk lokal ke pasar Tiongkok memberikan dampak berantai (multiplier effect) yang positif, mulai dari peningkatan kapasitas produksi pabrik, penyerapan tenaga kerja, hingga peningkatan kesejahteraan para petani yang menjadi pemasok bahan baku.

Pemerintah melalui Kementerian Perdagangan berkomitmen untuk terus memfasilitasi para pengusaha lokal—terutama UMKM—agar mampu memenuhi standar kualitas ekspor ( quality control) dan prosedur perizinan yang ketat di negara tujuan. Momentum di SIAL Shanghai ini harus terus dijaga agar neraca perdagangan Indonesia, khususnya di sektor non-migas, dapat terus mencatatkan surplus.

Baca juga berita update lainnya disini: https://nakarimedia.com/

Baca juga berita update lainnya disini: https://binarnesia.com/